Selamat malam sobat beritapns.com, berikut kami hadirkan
informasi mengenai APBN yang di Potong oleh Menteri Keuangan Sri
Mulyani, lalu bagaimana nasip Gaji PNS apakah akan turun, tetap atau ada
kenaikan pada tahun 2017, berikut penjelasannya.
Menteri
Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati memotong anggaran sebesar Rp
133,8 triliun tahun ini. Selain infrastruktur dan belanja program
prioritas pemerintah, anggaran yang lolos dari pemangkasan anggaran
adalah belanja Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk membayar gaji dan
tunjangan aparatur sipil negara.
"Belanja
pegawai aman, tidak dipotong," ujar Direktur Anggaran Bidang
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Purwanto saat berbincang dengan
Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Kamis (11/8/2016).
Dia
mengakui, anggaran lain yang selamat dari pemotongan adalah belanja
modal untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol dan lainnya,
serta anggaran bantuan sosial melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP),
Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Sehat (KIS).
"Anggaran
untuk kartu-kartu kemiskinan, bangun infrastruktur juga diamankan.
Penghematan lebih kepada aparat, tapi kalau untuk rakyat diusahakan
jangan (dipangkas)," jelas Purwanto.
Saat
dikonfirmasi mengenai pemotongan anggaran untuk pos formasi guru di
daerah yang tidak sesuai dengan rencana, Purwanto menegaskan pemerintah
tidak dapat mencairkan atau membayarkannya.
"Misalnya
daerah mengajukan anggaran sekian untuk formasi (jumlah) guru sekian,
tapi kenyataannya tidak sampai di formasi itu, maka anggarannya tidak
bisa dibayarkan," Purwanto mengatakan.
Untuk
diketahui, pemerintah mengalokasikan belanja pegawai di Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 sebesar Rp 347,5 triliun. Sri
Mulyani sebelumnya menjelaskan kondisi perekonomian global maupun
nasional terkini, serta pelaksanaan APBN-P 2016.
"Sesudah
melakukan kajian mendalam dan hati-hari dari perekonomian Indonesia,
penerimaan perpajakan, kita melakukan beberapa penyesuaian yang
diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi
kemiskinan, kesenjangan dan menciptakan lapangan kerja," jelasnya.
Menurut Sri Mulyani,
penerimaan
pajak selama dua tahun terakhir (2014-2015) selalu gagal mencapai
target yang ditetapkan. Akibatnya basis perhitungan anggaran tahun ini
sangat tidak realistis.
"Jadi
pemerintah perlu melakukan penyesuaian (pemotongan) agar dokumen APBN
kredibel, lebih realistis karena sumber penerimaan negara di sektor
pertambangan misalnya, melemah karena pengaruh anjloknya harga komoditas
tambang. Penerimaan pajak jadi terpengaruh," Sri Mulyani menerangkan.
Dari
sisi permintaan, sambungnya, kinerja ekspor dan impor Indonesia sangat
lemah. Pemerintah mengandalkan sumber penerimaan pajak lain, yakni dari
program pengampunan pajak (tax amnesty) meskipun potensi shortfall atau
kekurangan penerimaan pajak sebesar Rp 219 triliun.
"Jadi
diperlukan langkah mengamankan APBN sebagai tindakan. Di
Kementerian/Lembaga akan dibahas pemotongan Rp 65 triliun. Tapi untuk
aktivitas prioritas kerja pemerintah, seperti infrastruktur, pengurangan
kemiskinan dan kesenjangan terus didukung dari sisi anggaran, sementara
yang kurang prioritas dilakukan penundaan," papar Sri Mulyani.
Pemerintah,
Ia menuturkan, menghemat anggaran transfer ke daerah dalam bentuk Dana
Alokasi Khusus (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU) dan dana desa. Seperti
diketahui, pemerintah akan memangkas Rp 68,8 triliun anggaran transfer
daerah di APBN-P 2016.
Lebih
lanjut ia menuturkan, pemerintah pusat mencoba melakukan komunikasi
dengan daerah supaya ada ruang menjaga DAU sesuai komitmen. Caranya
dengan menunda pembayaran DAU, DAK fisik dan non fisik.
"Apakah
ada anggaran pos-pos pengeluaran seperti formasi guru yang tidak sesuai
dengan yang direncanakan, itu anggarannya tidak dicairkan. Dana Bagi
Hasil (DBH) juga lebih selektif," papar dia.
(Sumber)
Demikian informasi mengenai gaji PNS setelah adanya Pemotongan ANggaran oleh Menkeu yang baru.



Post A Comment:
0 comments: